{"id":81,"date":"2010-12-23T07:26:39","date_gmt":"2010-12-23T00:26:39","guid":{"rendered":"http:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/?p=81"},"modified":"2011-01-07T07:12:56","modified_gmt":"2011-01-07T00:12:56","slug":"implementasi-integrated-knowledge-management","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/2010\/12\/23\/implementasi-integrated-knowledge-management\/","title":{"rendered":"Implementasi Integrated Knowledge Management"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Untuk merealisasikannya, ada empat langkah yang perlu diperhatikan.   Pertama, menganalisis dan menentukan strategy objective dari integrated   KM bagi UMKM. Kedua, bagimana mengimplementasikan sistem KM technology   yang berbasis web agar mudah dimanfaatkan oleh semua UMKM dan semua   pihak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga, mendesain proses (skenario) agar dapat mencapai  target dari  penerapan integrated KM. Dan keempat, bagaimana menciptakan  budaya  pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan pemanfaatan  integrated KM oleh  semua pihak secara sinergis dan berkesinambungan.  Untuk lebih jelas  dapat dilihat pada gambar 2.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk langkah  pertama, strategy objective, semua pihak yang berkaitan  dapat duduk  bersama dalam menganalisis faktor apa saja yang diperlukan  UMKM agar  dapat berdaya saing tinggi. Dengan kejelasan mengetahui faktor   penentunya, maka strategy objective menjadi jelas dan terarah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Michael  Porter, pakar strategi dari Harvard Business School,  mengungkapkan  bahwa esensi dari sebuah strategi adalah bagaimana  mengoptimalkan  aktivitas bisnis secara unik atau berbeda dari yang  dilakukan pesaing.  Juga, menekankan pada pentingnya kebutuhan pelanggan,  kemampuan akses  pelanggan, dan ragam dari produk atau servis yang  dimiliki perusahaan  sebagai sebuah strategi positioning perusahaan. Hal  ini dimaksudkan  agar perusahaan bisa memiliki daya saing lebih tinggi  dari pesaing dan  berkesinambungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, inti strategy objective dari integrated  KM bagi UMKM adalah  harus fokus pada inovasi produk yang didukung  mudahnya akses permodalan  dan pemasaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah kedua,  implementasi teknologi KM berbasis web yang sangat  berkaitan dengan  teknologi informasi. Telah lama, teknologi informasi  terbukti mampu  merubah sebuah proses bisnis yang sebelumnya cenderung  konvensional  menjadi lebih cepat, informatif, inovatif, dan modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam  mengimplementasikan teknologi KM, faktor-faktor yang telah  ditentukan  oleh semua pihak di awal harus dapat diwujudkan melalui  fitur-fiturnya.  Secara mendasar, ada empat fitur yang wajib dimiliki  oleh sistem KM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fitur  pertama, knowledge storage tools, yang memudahkan UMKM dan  semua pihak  dalam mengumpulkan dan menyimpan data mapun infomasi. Karena  berbasis  web, maka proses penyimpanan data, informasi, dan pengetahuan  bisa  dilakukan dari mana saja dan pada saat kapan saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fitur kedua,  search and retrieval tools, dapat memudahkan UMKM dalam  melakukan  pencarian informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam  database.  Misalnya, ketika seorang pelaku UMKM memerlukan standar dan  spesifikasi  untuk industri jamur sitake ke jepang, maka dengan mudah  dpat  mencarinya dalam sistem ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fitur ketiga, collaboration tools,  memudahkan UMKM melakukan  kolaborasi dengan pihak lain dalam  mengoptimalkan proses bisnisnya.  Misalnya saat membutuhkan dana untuk  tambahan biaya produksi, maka UMKM  dengan mudah dapat berkolaborasi  dengan perbankan atau BI. Semua  infomasi dan bagaimana cara melakukan  peminjaman dana kepada pihak  perbankan telah tersedia secara detail.  Pihak perbankan pun melalui  sistem ini selalu berinisiatif dalam  mendistribusikan informasi dan data  mengenai penyediaan dana kredit dan  prosedurnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, UMKM dan perbankan dapat berkolaborasi  dalam mempercepat  peningkatan inovasi produk, penyelesaian masalah  produksi dan pemasaran,  hingga pengambilan keputusan bisnis. Kolaborasi  ini bisa dilakukan  secara online, dimana saja, dan kapan saja.  Sehingga, kolaborasi yang  terjadi sangat sinergis dan saling  menguntungkan satu sama lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fitur keempat, communication tools,  memungkinkan setiap pengguna  untuk berkomunikasi kepada pihak lain  secara real time dan dimana saja.  Dengan begitu, maka proses bisnis  yang dilakukan bisa berjalan efesien  dan efektif. Misalnya komunikasi  yang dilakukan oleh pemilik usaha  dengan para karyawannya. Atau  komunikasi yang bisa dilakukan antara  pemilik usaha dengan pihak  perbankan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui pemanfaatan fitur-fitur tersebut, maka UMKM  dan institusi  lainnya dapat melakukan kolaborasi dalam hal penukaran  pengetahuan dan  pengalaman, serta proses kerjasama bisnis seperti  penyluaran kredit dari  perbankan kepada UMKM. Tingkat kemampuan akses  dari fitur-fitur ini  bisa dilihat pada gambar 3.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan simbol  anak panah pada gambar, terlihat kemampuan dan  keterbatasan akses.  Misalnya, UMKM dapat mengakses semua fitur yang ada  secara dua arah.  Hal ini dimaksudkan agar UMKM dapat mengoptimalkan  pemanfaatan fitur  yang ada sehingga dapat meningkatkan daya saing  mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan  untuk perbankan, memiliki akses dua arah untuk  collaboration dan  communication. Hal ini dimaksudkan agar perbankan  fokus dalam melakukan  kerjasama bisnis dengan UMKM melalui fasilitas  pemberian kredit. Dan  untuk fitur knowledge storage tool, perbankan  cukup memiliki akses satu  arah, yaitu dalam membantu membagi data,  informasi, dan pengetahuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tingkat  akses yang kurang lebih sama juga berlaku untuk institusi  lainnya  seperti misalnya Departemen Koperasi. Hal ini dimaksudkan agar   institusi lain fokus dalam mentransfer pengetahuan dan pengalamannya   serta dalam hal kerjasama bisnis. Lebih lengkapnya dapat dilihat pada   gambar 3 di bawah ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian, langkah ketiga setelah  dilakukannya pembuatan sistem KM  adalah mendesain proses dalam mencapai  target-target baik untuk jangka  pendek maupun jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses  pertama adalah knowledge exchange. Pada proses ini target yang   diharapkan adalah setiap pihak yang berkepentingan seperti UMKM dapat   secara mudah melakukan pencarian data, informasi, dan pengetahuan dalam   sistem KM. Untuk itu, pada tahap ini sistem KM mampu membuat ruang  kerja  berbasis web yang memudahkan perbankan, UMKM, dan pihak lain  dalam  menyimpan dan membagi data, informasi, dan pengetahuannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">source : http:\/\/mylearningplus.blogspot.com\/2010\/03\/implementasi-integrated-knowledge.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk merealisasikannya, ada empat langkah yang perlu diperhatikan. Pertama, menganalisis dan menentukan strategy objective dari integrated KM bagi UMKM. Kedua, bagimana mengimplementasikan sistem KM technology yang berbasis web agar mudah dimanfaatkan oleh semua UMKM dan semua pihak. Ketiga, mendesain proses (skenario) agar dapat mencapai target dari penerapan integrated KM. Dan keempat, bagaimana menciptakan budaya pembelajaran, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3297,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7134],"tags":[],"class_list":["post-81","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel-knowledge-management"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3297"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":135,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81\/revisions\/135"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}