{"id":78,"date":"2010-12-23T06:58:44","date_gmt":"2010-12-22T23:58:44","guid":{"rendered":"http:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/?p=78"},"modified":"2011-01-07T07:16:39","modified_gmt":"2011-01-07T00:16:39","slug":"mengembangkan-strategi-berbasis-knowledge","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/2010\/12\/23\/mengembangkan-strategi-berbasis-knowledge\/","title":{"rendered":"Mengembangkan Strategi Berbasis Knowledge"},"content":{"rendered":"<p><span> <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Di tengah persaingan bisnis dalam era gobalisasi saat  ini, setiap perusahaan harus memiliki strategi agar dapat survive dan  memenangi pesaingan. Tapi strategi yang bagaimana dan seperti apa?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Melihat kiprah perusahaan besar seperti Google,  Microsoft, Samsung Group, Toyota dan Unilever di kancah global, rasanya  setiap orang tidak meragukan lagi keberhasilan strategi yang mereka  terapkan. Percaya atau tidak, perusahaan-perusahaan ini memulai  keberhasilan mereka dengan memfokuskan strategi bukan hanya ke hal-hal  yang bersifat pencapaian target dan revenue semata, tetapi membangun  perusahaan berbasis pengetahuan atau knowledge based enterprise.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Bagi perusahaan yang sudah menjalankan konsep  knowledge based enterprise ini, pengetahuan menjadi sumber daya yang  paling penting dan strategis bagi perusahaan. Organisasi perusahaan  harus selalu mencari cara untuk mengelola pengetahuan yang terdapat pada  diri masing-masing individu anggotanya untuk menghasilkan produk, jasa  maupun solusi yang berkualitas dan bersaing.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Perusahaan-perusahaan di atas merupakan contoh  perusahaan yang mampu menciptakan pengetahuan dan mengintegrasikannya  dalam proses bisnis sehari-hari. Dengan berbasis pengetahuan, mereka  mampu menciptakan intellectual capital melalui transformasi pengetahuan  individu maupun organsasi menjadi produk, jasa dan solusi berkelas  dunia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Setidaknya pengakuan terhadap kesuksesan  perusahaan-perusahaan di atas dalam menjadi knowledge based enterprise  terkemuka di dunia telah dilegitimasi dengan prestasi mereka saat  dinobatkan sebagai pemenang 2006 Global Most Admired Knowledge  Enterprise (MAKE) Study. Studi ini dilakukan untuk mengukur seberapa  besar komitmen dan kematangan perusahaan-perusahaan di dunia yang telah  knowledge-driven.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Studi yang berlangsung setiap tahun sejak 1998 ini  dilakukan oleh Teleos, sebuah badan penelitian mandiri di bidang  knowledge management dan intellectual capital di Inggris yang  bekerjasama dengan The KNOW Network, sebuah komunitas organisasi seluruh  dunia berbasis internet yang berdedikasi menggapai kinerja superior  melalui benchmarking, networking dan best practice knowledge sharing.  Benchmarking ini dilakukan dengan bercermin pada pemenang the Most  Admired Knowledge Enterprise (MAKE).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Ajang ini juga diselenggarakan di tingkat regional  seperti Asia, Eropa dan Amerika Utara. Pemenang-pemenang tingkat  regional ini nantinya akan bersaing dalam tingkat global. Indonesia  sendiri cukup beruntung karena telah mengadakan Indonesian Most Admired  Knowledge Enterprise (MAKE) Study sejak tahun 2005. Di dalam negeri,  ajang ini diselenggarakan oleh Dunamis Organization Services yang  didukung Asian Productivity Organization yang berbasis di Tokyo dan  Teleos sendiri sebagai penyelenggara Global MAKE Study.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Saat ditemui HC beberapa waktu lalu, Andiral Purnomo  selaku Chairman 2007 Indonesian KM Conference &amp; Workshop sekaligus  Associate Partner Dunamis Organization Services mengatakan bahwa  diselenggarakannya MAKE Study di Indonesia secara langsung dapat membuat  perusahaan-perusahaan Indonesia dikenal di tingkat internasional.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>&#8220;Pihak Teleos selaku penyelenggara Global MAKE Study  memberikan wildcard, tiga pemenang teratas otomatis menjadi finalis di  tingkat Asia. Coba dibayangkan, untuk menjadi finalis minimal harus  direkomendasikan oleh 10% panelis di Asia yang berjumlah paling sedikit  500 orang. Berarti kan minimal ada 50 pimpinan perusahaan Asia. Bisa  jadi kalau kita ikuti jalur resmi tidak ada satu pun perusahaan  Indonesia yang bisa masuk ke final apalagi menjadi winner&#8221;.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Sebagai contoh adalah PT Unilever Indonesia Tbk yang  selama dua tahun berturut-turut sejak 2005 menjadi wakil Indonesia yang  mampu menjadi pemenang di tingkat Asia bersanding sejajar dengan  perusahaan-perusahaan besar seperti LG Electronics, Samsung SDS, Samsung  Advanced Institute of Technology, POSCO (Korea Selatan), Canon, Sony,  Honda Motor, Nissan Motor, Toyota Motor Corporatin (Jepang), Infosys  Technologies, Satyam Computer Sevices, Tata Consultancy Services, Tata  Steel, Wipro Technologies (India) dan BHP Biliton (Austarlia).<\/span><\/p>\n<p><strong><span>Menuju Knowledge Based Country<\/span><\/strong><\/p>\n<p><strong> <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Kesadaran perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini  terhadap penerapan knowledge management menurut Andiral sudah cukup  tinggi meskipun masih ada yang baru sebatas tahu arti penting knowledge  enterprise namun belum tahu apa knowledge enterprise sebenarnya. Ia  melihat ada karakteristik yang menonjol dari perusahaan yang telah  menerapkan konsep knowledge enterprise. &#8220;Karakteristik yang menonjol  dalam knowledge enterprise tercermin dari kriteria, pertama, budaya  mereka berbasis pengetahuan. Kedua, mengembangkan knowledge worker  melalui leadership&#8221;, ujar Andiral.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Menurutnya lagi, ini berarti organisasi-organisasi  knowledge enterprise memiliki ciri-ciri antara lain sudah menganggap  karyawan bukan sekedar human resource tetapi sebagai human capital.  Karyawan benar-benar sudah menjadi real asset, bukan lagi alat produksi.  &#8220;Jadi perusahaan yang benar-benar sudah memiliki kesadaran tinggi bahwa  karyawan benar-benar harus dimanusiakan dan diakui sebagai manusia yang  utuh&#8221;.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Bila di Indonesia keadaannya seperti itu, maka lain  lagi dengan kondisi di tingkat global. Perusahaan-perusahaan di negara  yang sudah menjelma menjadi knowledge based country sudah menyadari  bahwa knowledge merupakan bagian dari competitive advantage. &#8220;Oleh  karena itu mereka benar-benar menjabarkan knowledge management dalam  satu strategi yang jelas terlepas dari business strategy. Karena mereka  menyadari bahwa di era sekarang kunci persaingan adalah kemampuan  mengelola pengetahuan manusia yang outputnya adalah kemampuan  pembelajaran,&#8221; Andiral menjelaskan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Selain itu dengan adanya MAKE Study, ia berharap  Indonesia dapat bertransformasi menjadi knowledge based country dan  masyarakatnya dapat menjadi knowledge based society. Karena di tengah  persaingan yang ketat, negara yang berbasis pengetahuan yang mendorong  inovasi akan mampu membantu pertumbuhan bisnis yang baik. Ia  mencontohkan negara seperti Finlandia yang memiliki lembaga-lembaga  pemerintahaan yang mendukung dan mendrive organisasi dan perusahaan  berbasis pengetahuan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Dengan sendirinya, environment bisnis seperti ini akan  memudahkan perusahaan dan organisasi dalam menjalankan dan  mengembangkan bisnis mereka. Hal ini akan berpengaruh terhadap  peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena perusahaanperusahaan akan  mampu menjadi perusahaan yang unggul, kompetitif dan otomatis dapat  memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>Untuk menuju knowledge based country, pemerintah  selaku pemegang kebijakan memegang kunci perubahan tersebut. Yang  pertama kali harus dilakukan tentu saja memperbaiki dunia pendidikan.  Sebab pembelajaran tidak bisa terlepas dari konsep knowledge itu  sendiri. Jadi, siapkah<\/span> <span>kita?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span>source : <\/span>http:\/\/www.portalhr.com\/majalah\/1id767.html<\/p>\n<h3><a rel=\"bookmark\" href=\"..\/index.php\/2010\/12\/23\/mengembangkan-strategi-berbasis-knowledge\/\"><br \/>\n<\/a><\/h3>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah persaingan bisnis dalam era gobalisasi saat ini, setiap perusahaan harus memiliki strategi agar dapat survive dan memenangi pesaingan. Tapi strategi yang bagaimana dan seperti apa? Melihat kiprah perusahaan besar seperti Google, Microsoft, Samsung Group, Toyota dan Unilever di kancah global, rasanya setiap orang tidak meragukan lagi keberhasilan strategi yang mereka terapkan. Percaya atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3297,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7134],"tags":[],"class_list":["post-78","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel-knowledge-management"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3297"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":80,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78\/revisions\/80"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}