{"id":74,"date":"2010-12-23T06:05:29","date_gmt":"2010-12-22T23:05:29","guid":{"rendered":"http:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/?p=74"},"modified":"2011-01-07T07:20:24","modified_gmt":"2011-01-07T00:20:24","slug":"implementasi-tqm-di-perusahaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/2010\/12\/23\/implementasi-tqm-di-perusahaan\/","title":{"rendered":"Implementasi TQM di perusahaan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em> <\/em> (<strong>TQM<\/strong>)  adalah suatu pendekatan manajemen yang menempatkan \u00a0mutu sebagai  strategi usaha, \u00a0dengan cara melibatkan seluruh anggota organisasi\u00a0dalam  upaya peningkatan mutu secara berkesinambungan dan sepenuhnya  berorientasi pada kepuasan pelanggan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Total  Quality Management (TQM) merupakan paradigma baru dalam menjalankan  bisnis, yang berupaya untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui  perbaikan secara berkesinambungan atas kualitas produk, jasa, manusia,  proses dan lingkungan organisasi. TQM merupakan pendekatan yang  seharusnya dilakukan organisasi masa kini untuk memperbaiki kualitas  produknya, menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitasnya.<br \/>\nSukses tidaknya implementasi TQM sangat ditentukan oleh kompetensi SDM  perusahaan untuk merealisasikannya. Penerapan manajemen sumber daya  manusia tidak berdiri sendiri tetapi terikat dengan paket TQM dan harus  selaras dengan perubahan proses.<br \/>\nTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap manenjer  menengah terhadap penerapan TQM yakni fokus pada pelanggan pelibatan dan  pemberdayaan karyawan, kerja sama tim, pendidikan dan latihan,  perbaikan berkesinambungan serta pengaruhnya terhadap kinerja  manajerial. Disamping itu penelitian juga bertujuan mengetahui perbedaan  sikap manajer menengah operasional dan non operasional terhadap faktor  kritsis TQM.<br \/>\nSampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah 100 orang manajer  menengah, yang diambil dengan cara simple random sampling. Analisis  regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh faktor  kritis TQM terhadap kinerja manajer. Sedang untuk mengetahui ada  tidaknya perbedaan sikap manajer menengah operasional dan non  operasional terhadap faktor kritis TQM dipergunakan uji beda(t test).<br \/>\nHasil penelitian menunjukkan bahwa secara serentak sikap manajer  menengah terhadap faktor kritis TQM berpengaruh terhadap kinerja  manajerial. Analisis dengan menggunakan uji beda menunjukkan tidak ada  perbedaan sikap antara manajer menengah operasional dan non operasional  terhadap faktor kritis TQM.<br \/>\nPenelitian ini memperkuat penelitian sebelumnya bahwa penerapan TQM  mempengaruhi kinerja manajerial dan penerpan TQM sangat ditentukan  kompetensi SDM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>A.<\/strong> <strong>PERUBAHAN LINGKUNGAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam  era globalisasi dan liberalisasi perdagangan, terjadi berbagai  perubahandalam hampir semua aspek, misalnya dalam aspek ekonomi,  politik, sosial budaya, teknologi, hukum, hankam, dan aspek lainnya.  Berbagai tren baru dalam lingkungan manufaktur membawa dampak terhadap  kualitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kelangsungan  hidup perusahaan sangat tergantung pada kemampuan untuk memberi respons  terhadap perubahan-perubahan tersebut secara efektif. Umumnya perubahan  yang terjadi disebabkan oleh berbagai kekuatan yang ada, baik internal  maupun eksternal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada  empat kekuatan eksternal utama, yaitu karakteristik demografi, kemajuan  teknologi, perubahan pasar, dan tekanan sosial serta politik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kekuatan internal bisa dipengaruhi oleh masalah sumber daya manusia dan perilaku atau keputusan manajerial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Permasalahan sumber daya manusia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Munculnya  masalah ini berkaitan dengan persepsi karyawan atas perlakuan terhadap  mereka dalam pekerjaan dan kesesuaian antara kebutuhan dan keinginan  individual dan organisasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Perilaku\/keputusan manajerial<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konflik  interpersonal, perilaku pemimpin yang tidak sesuai, sistem penghargaan  yang tidak memadai serta adanya reorganisasi structural merupakan  factor-faktor pendorong perlunya perubahan yang berkaitan dengan  perilaku\/keputusan manajerial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Total  quality management merupakan suatu konsep manajemen m,odern yang  berusaha untuk merespons secara tepat terhadap setiap perubahan yang  ada, baik yang didorong oleh kekuatan eksternal maupun internal. TQM  lebih berfokus pada tujuan perusahaan untuk melayani kebutuhan pelanggan  dengan memasok barang dan jasa yang memiliki kualitas setinggi mungkin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kehadiran  TQM sebagai paradigma baru menurut komitmen jangka panjang dan  perubahan total atas paradigma manajemen tradisional. Perlunya perubahan  total dikarenakan cara menjalankan bisnis dengan TQM berbeda sekali  dengan cara tradisional. Perbedaan pokok adalah berupa karakteristik  yang tercakup dalam unsur-unsur TQM, yang meliputi:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>\u00b7 Fokus pada pelanggan eksternal dan internal<\/li>\n<li>\u00b7 Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas<\/li>\n<li>\u00b7 Pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah<\/li>\n<li>\u00b7 Adanya komitmen jangka panjang<\/li>\n<li>\u00b7 Kerja sama tim<\/li>\n<li>\u00b7 Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan<\/li>\n<li>\u00b7 Perbaikan proses secara berkesinambungan<\/li>\n<li>\u00b7 Adanya pendidikan dan pelatihan karyawan yang bersifat bottom-up<\/li>\n<li>\u00b7 Adanya kebebasan yang terkendali<\/li>\n<li>\u00b7 Adanya kesatuan tujuan<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Munculnya  TQM juga dikarenakan adanya kekurangan atau kesalahan dalam menjalankan  bisnis dengan mengunakan pendekatan tradisional. Beberapa kekurangan  atau kesalahan tersebut (Fandy, 1995:329), antara lain sebagai berikut:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Berfokus pada      jangka pendek<\/li>\n<li>Cenderung      bersifat arogan, tidak berfokus pada pelanggan<\/li>\n<li>Memandang      rendah kontribusi potensial karyawan<\/li>\n<li>Menganggap      bahwa mutu yang lebih baik hanya dapat dicapai dengan biaya yang tinggi<\/li>\n<li>Mengutamakan      bossmanship bukan leadership<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>B.<\/strong> <strong>PERSYARATAN IMPLEMENTASI TQM<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk  melakukan suatu perubahan sering kali tidak mudah, apalagi bila  menyangkut perubahan yang bersifat fundamental dan menyeluruh. Berkaitan  dengan perubahan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan,  yaitu berikut ini:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0  Perubahan sulit berhasil bila manajemen puncak tidak menginformasikan  proses perubahan secara terus-menerus kepada para karyawannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0  Persepsi karyawan terhadap perubahan sangat mempengaruhi penolakan  perubahan. Karyawan akan mendukung perubahan bila mereka merasa bahwa  manfaat perubahan akan lebih besar daripada biaya yang ditimbulkan  terutama biaya karyawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada beberapa persyaratan untuk melaksanakan TQM (Goetsch, 1997:264) (Fandy, 1995:332) yaitu :<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Komitmen      manajemen puncak<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Komitmen atas      sumber daya yang dibutuhkan<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Organization      wide steering committee<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Perencanaan      dan publikasi<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Infrastruktur      yang mendukung penyebarluasan dan perbaikan terus menerus<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keseluruhan  persyaratan diatas merupakan tugas awal yang harus dilakukan dalam  memulai implementasi TQM. Selain tugas-tugas tersebut, masih ada  beberapa tugas lainnya yang harus dilakukan, yaitu sbb:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Melatih       steering committee, yang meliputi hal-hal seperti empat belas poin  deming,      deming\u2019s seven deadly diseases, tujuh alat\/piranti utama  perbaikan, dan      pembentukan tim kerja.<\/li>\n<li>Identifikasi       kekuatan dan kelemahan organisasi, yaitu mengenai kemampuan  statistic,      pengumpulan data, dan kemampuan analisis.<\/li>\n<li>Identifikasi       pendukung potensial TQM, yaitu dengan bagian apa yang paling  mungkin      menjadi pendukung TQM dan siapa yang menolak TQM.<\/li>\n<li>Identifikasi      pelanggan eksternal dan internal<\/li>\n<li>Menyusun  cara      untuk menentukan kepuasan pelanggan (eksternal dan internal),  antara lain      dengan melakukan patok duga pada perusahaan pesaing  terkuat untuk mengukur      perbaikan\/kemajuan yang dicapai.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>C.<\/strong> <strong>PERANAN MANAJEMEN DALAM IMPLEMENTASI TQM<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">TQM  merupakan transformasi budaya yang didorong oleh definisi ulang  (reengineering) terhadap peranan manajemen. Pihak manajemen harus  mebubah dirinya terlebih dahulu, baik aspek nilai, keyakinan, asumsi,  maupun cara mereka menjalankan bisnis. Peranan merupakan tanggung jawab,  perilaku, atau prestasi kinerja yang diharapkan dari seseorang yang  memiliki posisi khusus (Bounds, et al, 1994:1334). Selain melaksanakan  kepemimpinan yang diharapkan dapat memotivasi dan mengarahkan para  karyawan untuk mencapai tujuan organisasi, manajemen puncak juga  bertanggung jawab dalam mengatasi setiap penolakan terhadap perubahan ke  arah manajemen baru. Dalam mengatasi penolakan terhadap perubahan  tersebut, manajer puncak dapat menggunakan salah satu strategi berikut  (Kreitner dan Kinicki, 1994:737).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Pendidikan dan Komunikasi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Partisipasi dan Keterlibatan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Fasilitas dan Dukungan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4.\u00a0\u00a0\u00a0 Negosiasi dan Kesepakatan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">5.\u00a0\u00a0\u00a0 Manipulasi dan Cooptation<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">6.\u00a0\u00a0\u00a0 Paksana Secara Eksplisit dan Implisit<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil  analisis yang dilakukan Benson (et al., 1991) (dalam Hessel, 2003:81)  persepsi manajer mengenai manajemen kualitas ideal dan actual dengan  instrument tentang delapan area kritikal manajemen kualitas, yaitu peran  kepemimpinan, kebijakan kualitas, training product service design,  manajemen kualitas pemasok, data kualitas dam pelaporan serta hubungan  karyawan. Alat analisis digunakan adalah regresi berganda. Hasil  analisis menunjukkan bahwa organizational quality context ternyata  mempengaruhi persepsi manajemen kualitas actual maupun ideal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>D.<\/strong> <strong>PENDEKATAN IMPLEMENTASI YANG HARUS DIHINDARI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agar  implementasi TQM dapat berjalan dengan sukses, perusahaan harus  mempelajari semua informasi yang ada, baik mengenai implementasi yang  sukses maupun yang gagal di perusahaan lain. Ada beberapa pendekatan  implementasi TQM yang harus dihindari (Fandy, 1995:341), yaitu sbb:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Jangan melatih semua karyawan sekaligus<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Jangan tergesa-gesa menerapkan TQM dengan melibatkan terlalu banyak orang dalam satu tim<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Implementasi TQM tidak boleh didelegasikan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4.\u00a0\u00a0\u00a0 Jangan memulai implementasi bila manajemen belum benar-benar siap<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>E.<\/strong> <strong>FASE-FASE IMPLEMENTASI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut  Cortado (1993:179-182), ada lima tahap transformasi yang dilalui suatu  perusahaan, yaitu tahap kesadaran awal, implementasi sebagian, aktivitas  estensif, hasil-hasil nyata dan terbaik dalam industri dengan  karakteristik setiap tahap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut George dan Weimerskirch (1994:259-269), ada enam fase utama dalam implementasi TQM, yaitu sbb:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Komitmen manajemen puncak terhadap perubahan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Penilaian system perusahaan secara internal dan eksternal<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Pelembagaan focus pada pelanggan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4.\u00a0\u00a0\u00a0 Pelembagaan TQM dalam perencanaan strategic, keterlibatan karyawan, manajemen proses, dan system pengukuran<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">5.\u00a0\u00a0\u00a0 Penyesuaian dan perluasan tujuan manajemen guna memenuhi dan melampaui harapan pelanggan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">6.\u00a0\u00a0\u00a0 Perbaikan atau penyempurnaan system<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara  itu, Goetsch dan Davis (1997:584-589) memberikan klasifikasi fase  implementasi yang lebih rinci dan sistematis. Fase implementasi TQM  dikelompokkan menjadi tiga fase yaitu :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Fase Persiapan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah A: Membentuk Total Quality Steering Committee<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah B: Membentuk Tim<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah C: Pelatihan TQM<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah D: Menyusun Pernyataan Visi dan Prinsip sebagai Pedoman<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah E: Menyusun tujuan umum<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah F: Komunikasi dan Publikasi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah G: Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah H: Identifikasi Pendukung dan Penolak<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah I: Memperkirakan Sikap Karyawan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah J: Mengukur Kepuasan Pelanggan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Fase Perencanaan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah K: Merencanakan pendekatan Impelementasi, kemudian menggunakan siklus PDCA (Plan, Do, Check and Adjust)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah L: Identifikasi Proyek<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah M: komposisi Tim<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah N: Pelatihan Tim<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Fase Pelaksanaan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah P: Penggiatan Tim<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah Q: Umpan Balik kepada Steering Committee<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah R: Umpan Balik dari Pelanggan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah S: Umpan Balik dari karyawan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah T: Memodifikasi Infrastruktur<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keberhasilan  implementasi TQM sangat dipengaruhi oleh fasilitas pendukungnya yaitu  infrastruktur organisasi. Infrastruktur organisasi tersebut meliputi  berikut ini:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Hubungan      jangka panjang dengan pelanggan<\/li>\n<li>Dukungan      manajemen puncak<\/li>\n<li>Manajemen tenaga      kerja<\/li>\n<li>Hubungan      jangka panjang dengan pemasok.<\/li>\n<li>Sikap kerja      pekerja<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>F.<\/strong> <strong>PENGARUH IMPLEMENTASI TQM PADA KINERJA ORGANISASI.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengaruh penerapan TQM pada kinerja organisasi (Hessel, 2003:84) meliputi atas berikut ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Proses desain produk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Manajemen arus proses.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Statistical quality control.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4.\u00a0\u00a0\u00a0 Hubungan jangka panjang dengan pelanggan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">5.\u00a0\u00a0\u00a0 Sikap kerja pekerja<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">6.\u00a0\u00a0\u00a0 Kinerja organisai pada keunggulan kompetitif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>G.<\/strong> <strong>HAMBATAN IMPLEMENTASI TQM DI INDONESIA.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil  analisis implementasi TQM di Indonesia menunjukkan ketidaksempurnaan  implementasi TQM dan kurangnya infrastruktur yang mendukung implementasi  TQM. Secara umum, terdapat beberapa factor penyebab yang memungkinkan  keadaan tersebut (Hessel, 2003:98) yaitu sbb:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Kurangnya komitmen manajemen puncak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Kurangnya dukungan infrastruktur untuk implementtasi TQM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0 Partial quality management<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4.\u00a0\u00a0\u00a0 Kurangnya pengetahuan tentang kkosep TQM yang akan mempersulit karyawan untuk menerima dan menerapkan kosep TQM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">5.\u00a0\u00a0\u00a0 Budaya organisasi kurang mendukung implementasi TQM, dimana belum sepenuhnya berfokus pada kepuasan pelanggan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">source : http:\/\/elqorni.wordpress.com\/2008\/06\/03\/227\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(TQM) adalah suatu pendekatan manajemen yang menempatkan \u00a0mutu sebagai strategi usaha, \u00a0dengan cara melibatkan seluruh anggota organisasi\u00a0dalam upaya peningkatan mutu secara berkesinambungan dan sepenuhnya berorientasi pada kepuasan pelanggan. Total Quality Management (TQM) merupakan paradigma baru dalam menjalankan bisnis, yang berupaya untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan secara berkesinambungan atas kualitas produk, jasa, manusia, proses [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3297,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7134],"tags":[],"class_list":["post-74","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel-knowledge-management"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3297"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":138,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74\/revisions\/138"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/erich1200965203.blog.binusian.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}